Teknologi Modifikasi Cuaca

Follow and Share Us :
Vinkmag ad

Media Berita Online – Jakarta

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat ini menyiapkan dua pesawat yang akan digunakan untuk memodifikasi awan hujan usai banjir melanda sebagian wilayah di Indonesia.

Teknologi modifikasi cuaca tersebut dilakukan untuk mempercepat penurunan hujan

sebelum mencapai wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) sehingga mengurangi curah hujan turun di area tersebut dalam rangka mencegah banjir.

Menurut Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto,

pihaknya akan menjatuhkan hujan lebih cepat dari awan yang bergerak menuju Pulau Jawa.

Terutama awan yang datang dari bagian barat Pulau Sumatera.

Upaya tersebut dipercaya dapat meminimalisir curah hujan yang terjadi di wilayah Jabodetabek.

Pihaknya menargetkan, setidaknya 30 hingga 50 persen curah hujan di wilayah Jabodetabek dapat dikurangi.

Teknologi Modifikasi Cuaca: Antara Israel, Thailand, dan Indonesia

“Jadi awan yang mau masuk ke Jabodetabek dari arah Lampung, Selat Suda, dan seterusnya kita hujankan duluan,”

ungkapnya saat melakukan rapat koordinasi di Graha BNPB, Kamis (2/1).

Pihaknya juga sudah menyiapkan 22 ton bahan semai (garam) dan segera ditambah lagi stoknya.

Sementara untuk operasional dari pesawat modifikasi hujan yang terdiri dari CASA dan CN 295 itu akan dilakukan mulai sore ini, Kamis (2/1) atau besok , Jumat (3/1).

“Paling lambat besok pagi sudah bisa harus melakukan penerbangan,” kata Tri Pawang Hujan BPPT

Pihaknya kemudian mengklaim masih melakukan monitoring terhadap radar cuaca yang ada.

Hal itu, kata dia, berkaitan dengan banyaknya awan di suatu lokasi sebelum menuju wilayah Jabodetabek.

Setelah mendapatkan lokasi dengan cukup awan, BPPT berencana akan menerbangkan awak pesawat untuk menurunkan hujan di wilayah potensial tersebut.

Baca Lainnya :  Masa depan TV Samsung

“Kami terbang ke sana untuk menjatuhkan awan-awan itu,” pungkas dia.

Teknologi Modifikasi Cuaca Disiapkan Cegah Banjir Jabodetabek

Rencana memodifikasi cuaca untuk mengurangi curah hujan tinggi di Jabodetabek mengandung risiko.

Menurut Kepala Pusat Sains dan Teknologi Sains Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Halimurrahman, pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca dalam kasus tertentu memungkinkan.

“Hanya untuk diterapkan pada kasus seperti hujan ekstrim Jakarta kemarin perlu dikaji secara hati-hati,” ujarnya saat dihubungi Kamis 2 Januari 2020.

Menurut Halim, awan konveksi atau awan berbentuk kumulus dalam lapisan atmosfer yang tidak stabil muncul sangat luas dan intens.

Pada fenomena cold surge atau udara dingin yang menjalar dari Asia ke Indonesia dinamikanya sangat berbeda dibanding konvektif biasa karena ada desakan udara dingin dari utara.

“Hal lain terkait penerapan modifikasi cuaca yaitu mengubah keseimbangan alam.”

Sebelumnya diberitakan, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT,

Tri Handoko Seto mengatakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) itu dilakukan dengan cara menjatuhkan awan yang akan masuk ke Jabodetabek di Selat Sunda, Lampung dan sekitarnya.

Risiko Modifikasi Cuaca Pencegah Curah Hujan Tinggi Jabodetabek

“Jadi tugas kami adalah menjatuhkan awan itu sehingga curah hujan di Jabodetabek akan berkurang secara signifikan,”

kata Seto dalam Rapat Koordinasi Banjir Jabotabek di Kantor BNPB, Jakarta Timur pada Kamis 2 Januari 2020.

BPPT mentargetkan pengurangan sekitar 30-50 persen hujan yang diperkirakan akan jatuh di Jabodetabek.

Hal itu dianggap perlu lantaran saat ini Jabodetabak sudah sangat basah. Pihaknya berencana mengerahkan dua pesawat yaitu pesawat Casa dan CN 295 segera untuk modifikasi cuaca itu.

Ahli Sains Atmosfer dari Institut Teknologi Bandung Armi Susandi mengatakan rencana modifikasi cuaca dapat berhasil secara signifikan apabila aktivitas konveksi yang menyebabkan hujan di Jabodetabek terjadi di wilayah laut.

Baca Lainnya :  Twitter Uji Fitur Continue Threads

Kondisi lainnya yaitu tanpa angin dominan yang mendorong aktivitas konveksi awan-awan dengan cepat ke daratan.

Selain itu Armi menilai rencana modifikasi cuaca mungkin akan sulit dilakukan apabila aktivitas konveksi yang terjadi berasal dari aktivitas konveksi lokal yang menyebabkan awan hujan tumbuh di atas wilayah Jabodetabek.

Aktivitas konveksi lokal itu seperti penguapan dari badan air yang ada di Jabodetabek seperti waduk, danau, maupun sungai.

“Faktor lain pergantian angin darat dan angin laut di wilayah pesisir, atau pergerakan angin gunung dan lembah di wilayah Bogor dan sebagainya,” ujarnya.

Mengutip dari laman BPPT, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dilakukan dengan meniru proses yang terjadi di dalam awan.

Sejumlah partikel higroskopik yang dibawa dengan pesawat sengaja ditambahkan langsung ke dalam awan agar proses pengumpulan butiran tetes air di dalam awan segera di mulai.

Pelepasannya bisa dilakukan di bawah dasar awan, atau bisa juga dilepas langsung ke dalam awan.

Dengan berlangsungnya pembesaran tetes secara lebih awal maka hujan juga turun lebih cepat dari awan, dan proses yang terjadi lebih efektif.

 

Kunjungi Media Sosial Media Berita Online di Facebook Media Berita Online dan Twitter Portal Media Berita Online. Untuk Promosi Advertsing Iklan anda Chat di Whatsapp Official kami 0859 5155 2226

0 Reviews

Write a Review

administrator

Read Previous

Pawang Hujan BPPT Banyuwangi

Read Next

APBN 2019 Masih Tekor